Bukan fiktif belaka
Sebuah cerita yang ditulis sedemikian rupa, dengan alur cerita semenarik mungkin bahkan kadang kala kita mampu membaca akan seperti apa dan bagaimana ending ceritanya, itu akan ditemukan dalam sebuah drama, film, bahkan sinetron yang berlalu lalang di televisi dan layar-layar bioskop kesayangan mereka, dengan berbagai sandiwara kehidupan dibalik layar kamera yang saat ini dimiliki setiap umat manusia.
Akan berbeda jika sudut pandang itu kita lihat dari kehidupan manusia dimuka bumi yang nyata yang sebenar-benarnya, ending yang tidak tau akan seperti apa, dengan selalu dibumbui skenario dan perencanaan-perencanaan yang terukir indah didalam planning kehidupan, yang senantiasa menuju kepada kebahagiaan, tak bisa di bohongi. esensinya semua manusia dimuka bumi ini pasti ingin selalu bahagia , senantiasa bahagia setiap harinya, setiap detiknya bahkan, tak terkecuali ia.
Namun faktanya tak ada alur cerita kehidupan manusia dimuka bumi ini yang selalu bahagia, termaksud panutan kita dan sahabat-sahabat beliau. Terlepas dari itu ia sedikit mendengar dan membaca cerita kehidupan beberapa manusia di muka bumi ini, mengenai problematika hati, finansial, keluarga, status, persahabatan, dan seterusnya - seterusnya.
Dari mendengar dan membaca ia belajar sedikit beberapa hal bahwasanya :
Hidup yang ia jalani hingga saat ini, yang kadangkala ia keluhkan tak jarang pula ia pun bangga-banggakan adalah sebuah bualan, sejatinya tak benar-benar begitu. ketika ia mengetahui kisah hidup manusia lain, ada sebuah perasaan yang bergemuruh didalam hati,
Jika dijabarkan kurang lebih begini ;
Yang pertama adalah rasa syukur, syukur ternyata ia bukan satu-satunya manusia yang paling sedih dimuka bumi dengan segala sandiwara kesedihan yang pernah ia ciptakan sendiri, ternyata ada manusia lain yang lebih layak dikatakan menyedihkan perjalanan hidupnya dibanding perjalanan yang ia tempuh, dari perasaan syukur disusul pula dengan rasa malu yang kemudian tumbuh. Malu, malu untuk berkeluh kesah (lagi-lagi dan lagi).
Yang kedua adalah perasaan yang rasanya seperti anak yang culun kemudian di bully ditertawakan dengan kawan-kawannya karna tak tau apa-apa. Kurang lebih begitu ketika ia mengetahui bahwa ada manusia dimuka bumi ini yang dalam hidupnya banyak menyimpan segala bentuk gemuruh rasa sendirian berjuang untuk hidupnya sendirian, mengorbankan dirinya sendirian meskipun ramai orang disekitarnya, mengetahui kerasnya perjuangan dan kesanggupanya berjuang dalam kebenaran membuat ia kembali menciut bahwa ia bukanlah apa-apa dibanding mereka, ia kembali malu.
Yang ketiga hadir perasaan sesak di dada saat mengetahui ada kisah hidup manusia dimuka bumi ini yang hidupnya sangat-sangat butuh untuk dibantu agar sanggup bangkit tapi ia tak bisa berbuat apa-apa hanya mampu menatap dan mendoakan. Anggap saja ini seperti ketika kamu menemukan manusia di jurang yang terjal dan di bawahnya adalah hutan-hutan yang batang pohonya runcing menjulang, hanya kamu yang melihatnya, lalu manusia itu menatapmu dengan mata yang penuh harap seakan kamu pasti akan menolongnya tapi faktanya tubuhmu tak sanggup menompangnya untuk bangkit ke daratan kamu butuh pertolongan lain tapi waktu sama sekali tak bersahabat.
Yang terakhir adalah perasaan bahagia mengetahui kisah hidup manusia dimuka bumi ini yang segala perjalannya akhirnya ditutup dengan kalimat yang begitu indah yang didamba-damba kalimat itu adalah “La iLLa Ha ilallah” manusia yang menutup usianya dalam keadaan khusnul khotimah insha Allah. Ia turut berbahagia dan juga ada rasa takut yang berujung dengan rasa iri.
Dari segala bentuk perasaan yang tumbuh setelah mengetahui kisah hidup manusia lain, dapatkah kita menyadari sedikit saja kemudian mempercayai bahwa segala yang terjadi detik ini pun adalah kuasaNya adalah ketetapanNya, tak ada yang luput tak ada pun yang terbuang sia-sia, jika kita mau mentaffakuri semuanya, separuh abad atau bahkan belum sampai atau bahkan lebih, kita hidup disini dibumi ini. Pernahkah sedikit saja muncul keinginan untuk sekedar memutar kembali semua kenangan lama dimasa lalu dari sejak kecil hingga detik ini, banyak sekali peristiwa yang begitu hebatnya telah terjadi kalau saja kita benar ingin memahami dan merenungi.
Maka jelas sudah takdirNya tak akan pernah sanggup di gapai oleh akal ini meski kamu adalah manusia yang paling genius, meskipun hanya untuk menerka-nerka sedetik kedepan. Sadarkah kita segala yang terjadi didalam perjalanan ini adalah jelas karunia dari Nya.
Bisakah kamu memastikan bahwa esok segala schedule mu berjalan dengan baik?
Jika bisa, maka atas dasar apa?
Kita ini terkadang lucu, sebegitu menggebunya merencanakan esok akan seperti apa sedangkan waktu bukanlah milik kita, sudah banyak sekali ia saksikan manusia-manusia yang tiba-tiba mendapati keperluan mendadak yang merubah seluruh schedule yang ia rancang semalaman, ia pun pernah menyaksikan usia manusia yang telah selesai ketika schedule nya belum terrealisasikan esok paginya.
Semua adalah sebuah pembelajaran yang tak bisa dibeli, sebuah guru yang teramat sangat tegas dan mengesankan ketika dipahami. dari pengalaman. semestinya kita terbangun dari angan yang panjang dari sedih yang berkepanjangan dari bahagia yang menipu. semua yang terjadi sudah memang harus terjadi. tak bisa di pura-pura’i. Hidup kita adalah nyata maka bangunlah lihatlah kembali kenyataan ini. Berjalanlah kita dalam kebenaran meskipun tertatih-tatih meskipun sulit tapi nantipun pasti mudah karena DIA sudah berjanji bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan.
Bangunlah...
Sudah terlalu pulas terlelap dalam riuhnya dunia dengan gersangnya hati yang banyak mendamba dan mengejar-ngejarnya hingga lelah seperti manusia yang lupa diri. Sadari kembali, Kita hadir di bumi ini. diperintah untuk belajar lalu kemudian melaksanakan lalu mematuhi lalu kemudian berjuang lalu kemudian menebarkan lalu kemudian bersabar lalu kemudian ikhlas lalu kemudian belajar lagi lalu kemudian mematuhi lagi lalu begitu seterusnya, sampai nanti sampai kita tua sampai habislah waktu kita. Jika mau belajar maka banyaklah mendengar dan membaca kisah hidup manusia - manusia lain.
(sebuah perenungan untuk ia pribadi)
Dari ia yang pernah berucap Insha Allah menitipkan tulisanya.
Samarinda 30 Mei 2017 10 : 58 PM
Note : usah resah bila diuji, pasti kebahagiaan bakal dimiliki. karena janji Allah itu pasti.