
Jangankan yang remed, Yang tidak remed ujian mata pelajaran sejarah semester kemarin saja belum tentu tahu alasan kenapa Indonesia memperingati hari ibu pada tanggal 22 desember. Bukan setiap tanggal 9 Mei saat Amerika dan Negara-negara lain seperti Zimbabwe, Taiwan, Peru, Brunei Jerman, dan lain sebagainya merayakan menyelenggarakan Mother`s day? Padahal kan jika diartiin dari bahasa Inggris, Mother`s day kan berarti hari ibu? Kenapa kita tidak memilih tanggal yang sama? Benar memang, jika tanggal perayaan hari ibu di Indonesia dengan Amerika serikat yang berbeda-beda tergantung dari peristiwa sejarah atau latar belakang kebudayaan yang dimilikinya. Akan tetapi jika dilihat dari bentuk perayaan masyarakat kita sekarang saat 22 Desember tiba, rasa-rasanya bisa dibilang berbagai perayaan tersebut agak nyasar dari sejarahnya, malah menjadi agak mirip dengan momen perayaan Mother’s Day di Amerika Serikat yang memperingatinya dengan cara mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada ibu, memuji pengorbanan dan jasa-jasa ibu, dan lain sebagainya
Jika di Amerika Serikat dan 74 negara lainnya yang memperingati Mother’s Day setiap tanggal 9 Mei adalah karena pengaruh Keputusan Kongres (DPR-nya) Amerika Serikat untuk memperingati meninggalnya Ann Jarvis, seorang ibu yang pada 1868 menginisiasi gerakan untuk menyatukan kembali keluarga-keluarga yang tercerai berai akibat perang saudara (Civil War) di Amerika. Maka di Indonesia, awal dipilihnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu adalah karena Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959 yang memang menetapkan tanggal tersebut sebagai hari nasional guna memperingati Kongres Wanita ke-3 yang diadakan di Bandung .
Penetapan tanggal ini tentu saja bertujuan untuk menjaga semangat kebangkitan wanita Indonesia agar selalu mengingat bahwasanya, perjuangan mereka adalah salah satu tonggak penting yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa secara keseluruhan. Karena pada tanggal keramat tersebut para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Dimana Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah: Persatuan perempuan Nusantara; Pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; Pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; Perbaikan gizi bagi ibu dan balita; Pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Jadi sebenarnya tanpa diwarnai isu kesetaraan gender seperti apa yang dipertunjukan, para pejuang perempuan saat itu pun sebenarnya sudah memiliki pemikiran kritis dan aneka perjuangan yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Nah, setelah kita mengetahui sejarahnya, maka persepsi maupun perayaan kita tentang Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember selama ini mungkin saja berubah. Barangkali kata yang telah merancukan pemaknaan Hari Ibu adalah digunakannya kata “ibu”, dan bukan kata “perempuan”. Karena berdasarkan sejarah Indonesia, Hari ibu sudah selayaknya dirayakan dengan memberikan penghargaan terhadap jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, melainkan jasa perempuan secara keseluruhan, baik sebagai ibu, istri maupun sebagai bagian dari orang-orang yang memiliki tanggung jawab untuk membangun dan membawa bangsa ini pada masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, bagaimanapun kita memilih cara yang tepat untuk merayakan Hari Ibu, sepenuhnya ada pada kita.
0 komentar:
Posting Komentar