
Rasa-rasanya ilmu kami belumlah cukup untuk menggurui kalian. Apalagi untuk menyuruh kalian melakukan suatu pekerjaaan yang sama sekali tidak kalian senangi. Kami bukanlah institusi sekolah dengan kurikulum canggih yang mampu menerangkan pada kalian hikmah dari ulang tahun bangsa. Tapi jika kalian ingin memetik pelajaran berharga, dan benar-benar mau. Tiada petuah lain yang dapat kami sampaikan selain: pesimislah terhadap semua yang berhubungan dengan kemerdekaan kecuali dua hal: Cinta Tuhan dan mimpi kalian akan kesejahtraan di masa depan. Mengapa demikian?
Coba kalian fikir, apakah artinya kemerdekaan kalau kalian mesti terkungkung di sekolah dengan tujuh belas mata pelajaran dari pukul 06.30 WIB s.d 14.30 WIB. Kalau kalian merasa bahagia sih tak mengapa, tetapi bagaimana jika hal tersebut justru membuat kalian kehilangan jati diri serta ketiadaan jaminan kesuksesan kalian di masa depan. Belum lagi tuntutan biaya pendidikan yang semakin lama semakin membuat orang tua kalian mengecangkan tali ikat pinggang dan banting tulang. Apakah menurut kalian, kalian telah merdeka?
Betul memang apa yang dikatakan oleh guru dan buku pelajarannya, bahwa pada tujuh belas agustus 66 tahun silam, bangsa ini pernah mengikrarkan dirinya untuk merdeka. Tapi kalian mesti paham, proklamasi itu dibuat sebatas pada keinginan para pendahulu untuk tidak mau diatur lagi oleh negara bangsa lain. Hanya itu Tidak kurang–tidak lebih. Tak ada implikasinya pada semakin menurunnya biaya sekolah, semakin sedikitnya jumlah orang miskin, harga kebutuhan makin murah, dan lain sebagainya. Lalu pantaskah kalian memperingati hari kemerdekaan semacam itu, jika ternyata apa yang diimpikan 66 tahun lalu di benak para orang-orang tua itu tentang kemerdekaan hanyalah sebatas pada peralihan kepemimpinan dari tangan orang-orang berkulit putih ke orang- orang berkulit sawo matang yang masih satu rumpun atau suku dengan kita?
Apakah kalian pernah berfikir, bilamana proklamasi tidak terjadi dan sampai saat ini negara kita masih dikomandoi oleh orang berkulit putih yang berasal dari benua lain? Bukankah ada kemungkinan bahwa jika hal itu yang terjadi kehidupan kita saat ini justru lebih sejahtera? Mengingat kecakapan orang-orang Belanda di Eropa maupun Jepang di timur jauh sana mengurus negara. Bukankah negara yang mereka urus lebih sedikit korupsinya, lebih baik jaminan pendidikan dan kesehatan masyarakatnya? belum lagi dengan teknologi mereka yang lebih maju. Tidak seperti negara dimana kalian sekarang menjadi warganya, dan bangsa kalian sendiri yang memimpinnya. Belum lagi dengan bukti lain dimana berkat efek globalisasi terdapat beberapa korporasi Indonesia yang dipimpin dan menggunakan manajemen bangsa asing nyata lebih efisien dibanding yang dipimpin oleh orang Indonesia sendiri.
Tidak betul jikalau kalian menganggap bahwa apa yang kami fikirkan adalah rasis. Justru sebaliknya, tulisan ini hendak mengajak kalian untuk tidak berfikir rasis, karena mau tidak mau proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang kalian agung-agungkan itu memiliki efek untuk menjagokan status bangsa sendiri dan memusuhi status bangsa lain. Dan itu sudah tergolong ke dalam fikiran yang rasis. Apakah kalian pernah mengkritisi mengapa orang-orang yang dianggap oleh buku-buku sejarah sebagai para pemimpin bangsa saat itu lebih memilih untuk berperang mengurus negara mereka sendiri dibandingkan berkompromi dengan asing? Apakah semata-mata untuk mensejahterakan orang banyak seperti kakek nenek kalian yang menjadi warga negaranya saat itu, ataukah demi kekuasaan negara dimana mereka nantinya dapat memiliki harta dan tahta dari kekayaan negara yang mereka urus? Bersambung...
0 komentar:
Posting Komentar