Jumat, 29 Januari 2016

Indonesia Mereka Yang Merdeka, Indonesia Kami?

Standard

Rasa-rasanya ilmu kami belumlah cukup untuk menggurui kalian. Apalagi untuk menyuruh kalian melakukan suatu pekerjaaan yang sama sekali tidak kalian senangi. Kami bukanlah  institusi sekolah dengan kurikulum canggih yang mampu menerangkan  pada kalian hikmah dari ulang tahun bangsa. Tapi jika kalian ingin memetik pelajaran berharga, dan benar-benar mau. Tiada petuah lain yang dapat kami sampaikan selain: pesimislah  terhadap  semua yang berhubungan dengan kemerdekaan kecuali dua hal: Cinta Tuhan dan mimpi kalian akan kesejahtraan di masa depan. Mengapa demikian?

Coba  kalian  fikir, apakah  artinya  kemerdekaan  kalau  kalian  mesti  terkungkung  di sekolah dengan tujuh belas mata pelajaran dari pukul 06.30 WIB s.d 14.30 WIB. Kalau kalian merasa bahagia sih tak mengapa, tetapi bagaimana jika hal tersebut justru membuat kalian kehilangan jati diri serta ketiadaan  jaminan  kesuksesan  kalian  di masa  depan.  Belum  lagi  tuntutan  biaya  pendidikan  yang semakin  lama  semakin  membuat  orang  tua  kalian  mengecangkan  tali  ikat  pinggang  dan  banting tulang. Apakah menurut kalian, kalian telah merdeka?


Betul memang apa yang dikatakan oleh guru dan buku pelajarannya, bahwa pada tujuh belas agustus 66 tahun silam, bangsa ini pernah mengikrarkan  dirinya untuk merdeka.  Tapi kalian mesti paham, proklamasi  itu dibuat sebatas pada keinginan  para pendahulu  untuk tidak mau diatur lagi oleh  negara  bangsa  lain.  Hanya itu Tidak  kurang–tidak  lebih.  Tak ada  implikasinya  pada  semakin menurunnya biaya sekolah, semakin sedikitnya jumlah orang miskin, harga kebutuhan makin murah, dan  lain  sebagainya.  Lalu  pantaskah  kalian  memperingati   hari  kemerdekaan   semacam  itu,  jika ternyata apa yang diimpikan 66 tahun lalu di benak para orang-orang tua itu tentang kemerdekaan hanyalah  sebatas  pada peralihan  kepemimpinan  dari tangan  orang-orang  berkulit  putih ke orang- orang berkulit sawo matang yang masih satu rumpun atau suku dengan kita?


Apakah kalian pernah berfikir, bilamana proklamasi tidak terjadi dan sampai saat ini negara kita masih dikomandoi oleh orang berkulit putih yang berasal dari benua lain? Bukankah ada kemungkinan bahwa jika hal itu yang terjadi kehidupan kita saat ini justru lebih sejahtera? Mengingat kecakapan orang-orang Belanda di Eropa maupun Jepang di timur jauh sana mengurus negara. Bukankah negara yang mereka urus lebih sedikit korupsinya, lebih baik jaminan pendidikan dan kesehatan masyarakatnya?  belum lagi dengan teknologi mereka yang lebih maju. Tidak seperti negara  dimana  kalian  sekarang  menjadi  warganya,  dan bangsa  kalian sendiri yang memimpinnya. Belum lagi dengan bukti lain dimana berkat efek globalisasi terdapat beberapa korporasi Indonesia yang  dipimpin dan menggunakan manajemen bangsa asing nyata lebih efisien dibanding yang dipimpin oleh orang Indonesia sendiri.


Tidak betul jikalau kalian menganggap bahwa apa yang kami fikirkan adalah rasis. Justru sebaliknya, tulisan ini hendak mengajak kalian untuk tidak berfikir rasis, karena mau tidak mau proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang kalian agung-agungkan itu memiliki efek untuk menjagokan status bangsa sendiri dan memusuhi status bangsa lain.  Dan itu sudah tergolong  ke dalam fikiran yang rasis. Apakah kalian pernah mengkritisi mengapa orang-orang yang dianggap oleh buku-buku sejarah sebagai para pemimpin bangsa saat itu lebih memilih untuk berperang mengurus negara mereka sendiri dibandingkan berkompromi dengan asing? Apakah semata-mata untuk mensejahterakan orang banyak seperti kakek nenek kalian yang menjadi warga negaranya  saat itu, ataukah  demi  kekuasaan  negara  dimana  mereka  nantinya  dapat  memiliki  harta  dan  tahta  dari kekayaan negara yang mereka urus? Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar